Entri Populer

Kamis, 16 Desember 2010

Kesenjangan Antara Harapan dan Kenyataan

Oleh


Ryan Alief Putra



Sering kali kita bermimpi ingin memiliki dan meraih segala sesuatu yang kita inginkan. Tidak peduli apakah yang kita mimpikan itu realistis atau tidak dan akan terwujud atau tidak. Di sinilah paradigma umum yang sering kali berlaku dan kemudian pada akhirnya menejerumuskan para pemimpi tersebut. Dalam konteks dan situasi seperti l inilah yang kemudian disebut sebagai KESENJANGAN ANTARA HARAPAN DAN KENYATAAN. Kesenjangan antara harapan dan kenyataan secara definitif adalah sebuah situasi dimana perbandingan antara harapan dan kenyataan amatlah jauh. Artinya, harapan itu besar namun yang terwujud dari harapan itu amat kecil atau hanya 5 sampai 10% dari yang diharapkan.

Bila terjadi demikian, lantas apakah yang menjadi faktor terjadinya kesenjangan tersebut?
Setidaknya ada 3 faktor yang menyebabkan terjadinya kesenjangan tersebut, antara lain:

1. Takabur

Sering kali dalam berkhayal atau memimpikan sesuatu, kita merasa kita adalah yang terbaik untuk mendapatkan apa yang kita impikan itu. Akibatnya, kita lupa bahwa pada hakikatnya untuk meraih suatu hal tentu dibutuhkan suatu kerja keras dan tak jarang pula kompetisi juga menjadi sesuatu yang tak terhindarkan. Dalam konteks ini saya menitik beratkan pada kompetisi. Dalam kompetisi kita akan berhadapan dengan para kompetitor yang handal dan memiliki integritas dan kapabilitas yang tinggi pula. Bila kita merasa yang terbaik untuk meraih suatu mimpi, maka saat itulah kita dikatakan TAKABUR. Karena apa? perlu diingat, bahwa diatas langit masih ada langit.Artinya sehebat apapun kita, masih ada yang lebih hebat dari kita. Untuk itu, sehebat apapun kita dalam berprestasi didalam hidup ini, tetaplah rendah hati. Impian dan harapan adalah mutlak untuk dimiliki namun tetaplah rendah hati sembari bekerja keras.

2. Harapan yang terlalu tinggi

KECEWA, itulah yang akan kita rasakan manakala apa yang kita harapkan pada akhirnya tidak dapat menjadi kenyataan. Pada prinsipnya, harapan ibaratnya sebuah pil. Artinya ada takaran dan ukuran berapa banyak dapat diminum. Bila terlalu sedikit pil itu diminum, maka kesehatan kita akan jalan di tempat, demikian sebaliknya bila berlebihan maka akan terjadi overdosis. Kaitannya dengan harapan adalah kita perlu menakar seberapa besar harapan atau mimpi itu yang ingin kita wujudkan. Dalam hal ini faktor keadaan, situasi, dan lingkungan sekitar kita haruslah dijadikan sebagai indikator bagi harapan yang ingin kita wujudkan tersebut. Jadi harapan yang terlalu tinggi adalah tidak baik dan akan membuat kita menjadi kecewa.

3. Do nothing

Dalam konteks ini bermimpi tapi tidak melakukan apapun untuk membuat harapan itu menjadi kenyataan. Bila kita analogikan, harapan itu ibarat sebuah benih sedangkan kenyataan itu adalah buah dari benih tersebut. Sekarang bagaimana mungkin benih itu akan berbuah bila hanya didiamkan saja. Demikian halnya dengan harapan dan kenyataan. Kenyataan akan benar - benar terwujud apabila harapan yang didambakan dan diinginkan itu dilaksanakan secara sungguh - sungguh. Untuk itu hindarilah dan buang jauh - jauh sikap do nothing. Do nothing hanya akan menjadikan kita pribadi yang hanya bisa bermimpi tapi tak pernah bisa berbuat. Lakukan sesuatu yang terbaik agar mimpimu menjadi kenyataan, itulah filosofi yang sesungguhnya.

Berdasarkan tiga faktor diatas, maka didapatlah cara untuk membuat agar kesenjangan tersebut diperkecil atau bahkan dihilangkan sama sekali. Cara tersaebut hanyalah satu yaitu: Lakukanlah sesuatu yang terbaik dan rendahkan hati anda serta katakanlah kepada diri anda bahwa impian itu akan nyata bagi anda.

Dengan demikian, semoga mimpi dan harapan yang dicita - citakan dapatlah menjadi sebuah kenyataan yang signifikan dan berarti.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar